Fenomena anak sekolah dan guru mengikuti trend joget TikTok di zaman sekarang

 


"Fenomena anak sekolah dan guru mengikuti trend joget TikTok di zaman sekarang"

Dapat dilihat dari berbagai sudut pandang : 


1. Aspek Budaya

Tren joget TikTok merupakan bagian dari budaya digital yang berkembang pesat di era globalisasi.

Positifnya, dapat menjadi sarana kreativitas, hiburan, dan ekspresi diri bagi guru maupun siswa.

Namun, jika dilakukan tanpa memperhatikan norma kesopanan dan budaya lokal, dapat menggeser nilai-nilai budaya yang menjunjung etika, tata krama, dan penghormatan terhadap guru. Sekolah perlu menyaring budaya populer agar tetap selaras dengan nilai pendidikan dan budaya bangsa.


2. Aspek Psikologi

Kegiatan membuat video bersama dapat mempererat hubungan emosional antara guru dan siswa sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.

Siswa merasa lebih dekat dengan guru sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar.

Di sisi lain, adanya keinginan untuk viral dan mendapatkan banyak "like" dapat menimbulkan ketergantungan terhadap pengakuan sosial serta mengurangi fokus pada kegiatan akademik. Jika tidak terkontrol, dapat memicu perilaku ikut-ikutan (conformity) tanpa mempertimbangkan dampaknya.


3. Aspek Sosial

Fenomena ini menunjukkan perubahan pola interaksi sosial antara guru dan siswa yang menjadi lebih akrab dan komunikatif.

Konten positif dapat membangun citra sekolah yang kreatif dan mengikuti perkembangan zaman.

Namun, apabila tidak memperhatikan batas profesionalitas, dapat mengaburkan peran guru sebagai pendidik dan figur yang harus dihormati. Selain itu, video yang viral berpotensi menimbulkan komentar negatif, perundungan digital (cyberbullying), atau kontroversi di masyarakat.


4. Aspek Agama

Dalam Islam, hiburan pada dasarnya diperbolehkan selama tidak mengandung unsur maksiat, membuka aurat, gerakan yang tidak pantas, atau melalaikan kewajiban ibadah.

Jika joget TikTok dilakukan secara sopan, menjaga adab, dan tidak menimbulkan fitnah, maka dapat dianggap sebagai bentuk rekreasi yang mubah (boleh).

Namun, apabila gerakannya berlebihan, mengundang syahwat, atau mengurangi kewibawaan guru sebagai pendidik, maka hal tersebut perlu dihindari. Guru dan siswa hendaknya menjadikan media sosial sebagai sarana yang memberikan manfaat serta mencerminkan akhlak yang baik.


Kesimpulan

Fenomena guru dan siswa mengikuti tren joget TikTok tidak dapat dinilai sepenuhnya baik atau buruk. Dampaknya bergantung pada tujuan, cara pelaksanaan, serta nilai-nilai yang dijaga. Jika dilakukan secara kreatif, sopan, dan edukatif, fenomena ini dapat menjadi media positif. Namun, jika melanggar norma budaya, etika pendidikan, dan ajaran agama, maka perlu diberikan batasan dan pengawasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Dinasti Abbasiyah

Tantangan Implementasi Pembelajaran Berbasis Teknologi

Konsep Inovasi Pembelajaran dan TPACK