Tantangan Implementasi Pembelajaran Berbasis Teknologi
Nama : Ema Mardhotillah
Nim : 240101062
Prodi : Pendidikan Agama Islam
Fakultas : Tarbiyah
Tantangan Implementasi Pembelajaran Berbasis Teknologi
15 Februari 2026
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sejak pandemi, sekolah-sekolah semakin akrab dengan platform pembelajaran daring, aplikasi interaktif, hingga penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu proses belajar mengajar. Di Indonesia sendiri, kebijakan transformasi pendidikan seperti yang didorong oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mempercepat integrasi teknologi dalam sistem pendidikan nasional.
Namun, sebagaimana dibahas sebelumnya, implementasi pembelajaran berbasis teknologi tidak terlepas dari berbagai tantangan. Artikel ini akan membahas tidak hanya tantangannya, tetapi juga solusi dan contoh praktik baik yang dapat menjadi inspirasi.
1. Tantangan Infrastruktur dan Pemerataan Akses
Masalah infrastruktur masih menjadi hambatan utama. Sekolah di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) sering menghadapi keterbatasan listrik, perangkat, dan koneksi internet stabil. Ketimpangan ini menyebabkan kesenjangan kualitas pembelajaran antara daerah perkotaan dan pedesaan.
Solusi:
•Pemerintah dan swasta perlu memperluas kerja sama penyediaan internet berbasis satelit atau jaringan komunitas.
•Penggunaan perangkat bersama (shared devices) dengan sistem jadwal.
•Optimalisasi pembelajaran berbasis offline digital content yang dapat diakses tanpa internet.
Beberapa daerah mulai memanfaatkan bantuan perangkat Chromebook dan platform pembelajaran nasional untuk mendukung digitalisasi sekolah secara bertahap.
2. Kompetensi Guru dan Literasi Digital
Teknologi tidak akan efektif tanpa guru yang kompeten. Banyak guru masih berada pada tahap penggunaan dasar seperti presentasi digital, belum sampai pada integrasi pembelajaran berbasis proyek, kolaboratif, atau berbasis data.
Solusi:
•Pelatihan berkelanjutan berbasis praktik, bukan hanya teori.
•Komunitas belajar guru untuk berbagi praktik baik.
•Sertifikasi kompetensi digital bagi tenaga pendidik.
Program seperti Guru Penggerak menjadi salah satu langkah konkret dalam meningkatkan kapasitas guru agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
3. Resistensi terhadap Perubahan
Sebagian guru dan orang tua merasa teknologi menambah beban kerja atau membuat siswa terlalu bergantung pada gawai. Kekhawatiran terhadap distraksi dan penurunan interaksi sosial juga menjadi isu yang sering muncul.
Solusi:
•Pendekatan bertahap dan pendampingan intensif.
•Sosialisasi manfaat teknologi secara transparan.
•Model blended learning (kombinasi tatap muka dan digital) agar tetap menjaga keseimbangan.
Model pembelajaran campuran terbukti lebih mudah diterima karena tidak sepenuhnya meninggalkan metode konvensional.
4. Keamanan Data dan Etika Digital
Penggunaan platform digital membawa risiko kebocoran data dan penyalahgunaan informasi siswa. Sekolah perlu memiliki kebijakan perlindungan data yang jelas.
Solusi:
•Edukasi literasi digital bagi siswa dan guru.
•Pemilihan platform yang memiliki standar keamanan tinggi.
•Regulasi dan pengawasan internal sekolah.
Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika dan keamanan dalam ruang digital.
Contoh Implementasi Sukses
Beberapa sekolah di kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai menunjukkan hasil positif dari integrasi teknologi. Sekolah-sekolah tersebut menerapkan:
•Sistem manajemen pembelajaran (LMS) terintegrasi.
•Penilaian berbasis proyek digital.
•Dashboard pemantauan perkembangan siswa.
•Kelas interaktif berbasis video conference dan simulasi digital.
Hasilnya, siswa menjadi lebih aktif, kreatif, dan terbiasa dengan pembelajaran mandiri. Bahkan, beberapa sekolah melaporkan peningkatan partisipasi kelas dan efektivitas tugas kolaboratif.
Kesimpulan
Implementasi pembelajaran berbasis teknologi memang penuh tantangan: mulai dari infrastruktur, kompetensi guru, kesenjangan digital, hingga keamanan data. Namun, tantangan tersebut bukan alasan untuk mundur. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi berbagai pihak, serta komitmen jangka panjang, teknologi dapat menjadi alat transformasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kunci utamanya bukan pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemerataan pendidikan.


Komentar
Posting Komentar